Pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) yang efektif sangat bergantung pada kondisi lingkungan fisik rumah sakit, terutama pada area-area berisiko tinggi penularan infeksi, yaitu ruang isolasi pasien dengan transmisi airborne, ruang/Poli Tuberkulosis (TB), dan kamar operasi (OK). Ketiga area ini memiliki persyaratan tata kelola udara yang spesifik dan berbeda satu sama lain — ruang isolasi airborne dan ruang TB memerlukan tekanan udara negatif terhadap koridor untuk mencegah penyebaran droplet nuclei ke luar ruangan, sedangkan kamar operasi memerlukan tekanan udara positif, filtrasi tinggi, dan Air Changes per Hour (ACH) yang memadai untuk mencegah kontaminasi area steril dan menurunkan risiko Infeksi Daerah Operasi (IDO). Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit (STARKES, KMK No. HK.01.07/MENKES/1596/2024) secara eksplisit menilai tata kelola fasilitas dan lingkungan PPI, termasuk ventilasi mekanik dan alami, tekanan udara ruangan, serta pemeliharaan rutin sistem Air Handling Unit (AHU) dan exhaust fan. Capaian ini tidak dapat dipenuhi hanya oleh Komite PPI sendiri, melainkan memerlukan kolaborasi erat dengan unit teknis yang menangani sarana dan prasarana fisik rumah sakit. Sebagai rumah sakit khusus ortopedi dengan volume tindakan bedah yang tinggi, RS Ortopedi Prof. Dr. R. Soeharso Surakarta memiliki kerentanan spesifik pada capaian Infeksi Daerah Operasi (IDO). Data LAKIP PPI tahun 2025 mencatat capaian IDO pasien spine sebesar 2,57% dari target ≤2% (indikator yang belum tercapai), sementara seluruh indikator Healthcare-Associated Infections (HAIs) lain (ILO, ISK, HAP, IADP, VAP, dekubitus, phlebitis) berada pada atau di bawah target. Selain itu, kajian teknis yang telah disusun sebelumnya untuk perbaikan Ruang Poli TB RSO (Oktober 2026) — mencakup perhitungan ACH, pilihan ventilasi alami/mekanis, dan alternatif sistem tekanan negatif berbasis HEPA — menunjukkan bahwa aspek teknis tata udara memerlukan pemahaman bersama antara pihak yang menetapkan standar (Komite PPI) dan pihak yang melaksanakan serta memelihara sarana (Instalasi Pemeliharaan Sarana Rumah Sakit/IPSRS), maupun pihak pengguna harian (Instalasi Bedah Sentral dan Kepala Ruang terkait). Dalam praktik di lapangan, masih ditemukan kesenjangan pemahaman antar unit terkait parameter teknis tata udara (ACH, beda tekanan, suhu, kelembaban), metode pengukuran dan monitoring (manometer diferensial, anemometer), jadwal pemeliharaan preventif filter dan AHU, serta alur pelaporan bila terjadi gangguan sistem. Kesenjangan ini berisiko menyebabkan standar yang telah ditetapkan Komite PPI tidak diimplementasikan secara konsisten di lapangan, baik karena keterbatasan pemahaman teknis petugas ruangan maupun karena belum optimalnya koordinasi lintas unit. Berdasarkan hal tersebut, Komite PPI RSO Soeharso memandang perlu diselenggarakan kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Tata Kelola Udara di Ruang Isolasi, Ruang/Poli TB, dan Kamar Operasi, yang melibatkan secara langsung IPCN dan IPCLN sebagai representasi Komite PPI, Instalasi Pemeliharaan Sarana Rumah Sakit (IPSRS) sebagai penanggung jawab teknis mekanikal-elektrikal, Instalasi Bedah Sentral (IBS) sebagai pengelola kamar operasi, serta Kepala Ruang terkait sebagai pengawas harian kepatuhan di unit pelayanan. Kegiatan ini diharapkan menjadi forum penyamaan persepsi, peningkatan kompetensi teknis, dan penguatan sistem monitoring-pemeliharaan udara di seluruh area kritis RSO.
Segera daftar pelatihan berikut ini
Login / registrasi terlebih dahulu untuk mendaftar pelatihan.
Diklat Rumah Sakit Ortopedi Prof. Dr. R. Soeharso Surakarta