
Osteoporosis merupakan salah satu masalah kesehatan tulang yang semakin banyak ditemukan seiring dengan meningkatnya usia harapan hidup masyarakat. Kondisi ini ditandai dengan penurunan kepadatan massa tulang secara progresif, sehingga tulang menjadi rapuh dan mudah mengalami fraktur meskipun hanya dengan trauma ringan. World Health Organization (WHO) mencatat osteoporosis sebagai salah satu penyakit degeneratif dengan prevalensi yang terus meningkat, terutama pada populasi lanjut usia dan perempuan pasca menopause. Di Indonesia sendiri, angka kejadian osteoporosis maupun osteopenia (kondisi prapatologis osteoporosis) menunjukkan tren peningkatan, namun kesadaran masyarakat akan pentingnya deteksi dini dan pencegahan masih tergolong rendah. Osteoporosis kerap disebut sebagai "silent disease" karena tidak menimbulkan gejala yang jelas hingga akhirnya terjadi fraktur, baik pada tulang belakang, panggul, maupun pergelangan tangan. Fraktur akibat osteoporosis tidak hanya berdampak pada aspek fisik, tetapi juga menurunkan kualitas hidup, meningkatkan risiko kecacatan, ketergantungan pada orang lain, bahkan kematian, terutama pada kelompok lanjut usia. Salah satu faktor risiko yang erat kaitannya dengan fraktur pada pasien osteoporosis adalah kejadian jatuh, yang seringkali dapat dicegah melalui identifikasi risiko secara dini dan intervensi keperawatan yang tepat.
Segera daftar pelatihan berikut ini
Login / registrasi terlebih dahulu untuk mendaftar pelatihan.
Diklat Rumah Sakit Ortopedi Prof. Dr. R. Soeharso Surakarta